Senin, 04 Mei 2015

KUNCI PAPUA DAMAI SEJAHTERAH
logo_irect1
VISI Sinode KINGMI tanah Papua dan Gubernur Papua saat ini adalah Papua damai sejahterah. Visi ini sejalan dengan apa yang telah diupayakan dan telah dianugerahkan Tuhan Yesus Kristus kepada para murid-Nya.
Kunci dari Papua Damai Sejahtera bukan ada pada status politik, ekonomi, sosial dan budaya tanah Papua, tetapi ada pada posisi orang Papua dalam kasih karunia Allah. Selama orang Papua ada dalam kasih karunia Allah, maka damai sejahtera itu terus akan mengalir seperti sungai yang tak pernah kering, yang membuat orang Papua hidup dalam damai sejahtera seperti yang telah dijanjikan Allah di dalam Alkitab. Namun ketika orang Papua menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, maka berakhirlah Papua damai sejahtera yang dirindukan dan diimpikan selama ini, dan yang datang adalah duka dan nestapa, karena, akan ada akar pahit dalam orang Papua yang telah meninjauh dari kasih karunia Allah, sehingga terjadi jadi perpecahan mulai dari kehidupan sebuah keluarga, kemudian antara satu keluarga dengan keluarga lainnya dan antara satu kelompok masyarakat dengan masyarakat lainnya. Selanjutnya berujung kepada kerusuhan dan berbagai bentuk pencebaran hubungan sosial yang adalah dalam warga masyarakat......derita yang tak berujung.

Logo-SINODE-KINGMI-Papua
Ibrani 12:15, Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang
Solusianya hanya satu, yaitu: hanya kembali kepada dan hidup dalam kasih karunia Allah.

Apa itu kasih karunia Allah?
Kasih karunia Allah adalah pemberian kasih Allah yang telah dianugerahkan kepada semua umat manusia secara Cuma-Cuma di dalam pribadi Tuhan Yesus Kristus, berupa pengampunan dosa, pembenaran, keselamatan, pembaharuan hidup, pemulihan, pertumbuhan. Dengan kita menerima pengampunan dosa hanya oleh darah anak domba Allah dan pembenaran dalam Tuhan Yesus Kristus yang telah mati menggantikan kita di kayu salip dan bangkit dari antara orang mati, lalu kita belajar hidup hanya oleh iman dalam Tuhan Yesus Kristus, maka kita telah menempatkan diri kita pada posisi kasih karunia itu sendiri sehingga kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah, terlepas dari perpecahan, perseturuan dan kerusuhan, sebaliknya dalam kasih dan persaudaraan. 

Doc. Rudolf Pigay
Akhirnya, damai sejahtera yang telah ditinggalkan oleh Tuhan Yesus Kristus itu menjadi bagian dari hidup (Yohanes 14:27) orang Papua, sehingga orang Papua dapat hidup dalam damai sejahtera di tanah yang telah diberikan Tuhan kepada kita (Roma 5:1; Lukas 1:79).

Oleh : Rudolf Pigay 
Sangat penting untuk di jadikan tulisan dalam blog karena catatan ini bermanfaat untuk kita memahami apa arti dari "KUNCI PAPUA DAMAI SEJAHTERAH"
Papua Damai "Zona Revolusi"
13.32.00

Papua Damai "Zona Revolusi"

Kamis, 30 April 2015


Buku : Penabur Benih
ENAA KOBOUYE
Oleh : Benny Makewa Pigai, SE. MA
Buku ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan akademik pada Sekolah Tinggi Teologi Walter Post Jayapura (Selanjutnya disebut STTWPJ) pada program doktor bidang Sejarah Gereja dan Budaya Papua. Program ini dibuka oleh Sinode Segitiga yang basis pelayanannya di pegunungan tengah tanah Papua ialah Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) tanah Papua, Sinode Gereja-Gereja Baptis tanah Papua dan Sinode GIDI tanah Papua dengan menitip program ini di STTWPJ dan resmi menyelenggarakan program studi ini dalam bulan Agustus 2009.

Dua Sinode gereja tetangga ini masih mengakui Gereja Kemah Injil (Kingmi) sebagai ‘mama’ karena Gereja Kingmi ini telah mendorong lahirnya dua gereja tetangga ini ada dipegunungan tengah tanah Papua. Melihat latar belakang kehidupan umat dan sejarah pelayanannya ini maka Program Studi Doktor Bidang Sejarah Gereja dan Budaya Papua ini dibuka menjadi program bersama Tiga Sinode tadi dalam tujuan menggali sepak terjangnya kehidupan dan sejarah gerega-gereja di tanah Papua ini disejajarkan dengan sejarah gereja-gereja Indonesia dan sejarah gerejagereja dunia.
Teman-taman saya yang lain menulis sejarah ini dan penelitian saya ini khusus sejarah dan kisah para2 Makewa Kisah hidup perintis gereja Kingmi tanah Papua perintis gereja Kemah Injil (Kingmi) tanah Papua, dan saat melakukan penelitian disertase ini, para perintis gereja ini pesan agar pengakuan ‘mama’ dari dua gereja sahabat tadi tidak hanya ikut membanggakan hati saat mendengar pengakuan ini tetapi bagaimana dalam pelayanan gereja kita kedepan ini benar-benar berubah menjadi ‘mama’ yang senantiasa member teladan dalam tugas-tugas pastoral tentang sosial dan ekonomi dalam pewartaan Jilid II masa depan menjadi gereja penabur benih? Untuk pertama kali, penelitian ini hasil wawancara langsung dengan pelaku sejarah, anak-anak dan sanak saudaranya, teman sekerja dan orang lain disekitarnya yang dapat memberi keterangan mengenai sang tokoh dalam sejarah pekabaran injil di tanah ini. Khusus para perintis gereja Kemah Injil (Kingmi) tanah Papua ini melaksanakan tugas pekabaran injil di tanah ini dibawah pengaruh hidup dan pandangan teologi dunia barat termasuk orang-orang Ambon dalam Gereja ini melihat budaya dan  kehidupan kaum pribumi adalah kotor dan najis atau dianggap pemberian iblis maka diajak semua umat berbalik 100 pada budaya baru agama Kristen yang dalam pewartaannya mendominasi nilai-nilai hidup dan budaya dunia barat dan orang Ambon dalam pewartaan di gereja ini.

Dalam tahun 1970an ini membaca Alkitab dan membanding-bandingkan ayat-ayat Alkitab dengan nilai-nilai hidup dalam budaya dan kehidupan orang Me yang kemudian di khotbahkan di gereja dan dalam Makewa Kisah hidup perintis gereja Kingmi tanah Papua 3 program penginjilan. Lamunan injil Kristus dan ayatayat Alkitab dengan nilai-nilai budaya orang Me tadi dimusnahkan oleh gereja ini jauh sebelum perubahan atau menjadi tiga kabupaten Meuwo (Paniai, Deiyai dan Dogiyai) seperti ada hari ini. Para pekabar injil dunia barat, orang-orang Ambon dalam gereja, penginjil pribumi dan siswa sekolah Alkitab tadi dalam pewartaan kabar baik ini tidak seperti pandangan dalam Alex Rumaseb (2014) dan dalam John Gobai (2008) yang diterjemahkan gerakan penginjilan pertobatan, melainkan gerakan bertopen penginjilan untuk pembasmian nilai-nilai hidup dalam budaya masyarakat suku atas nama Tuhan yang waktu itu diiringi dengan nyanyian : Yesus ekaduba-Yesus ekadua to peu tekiya, Yesus ekaduba –Yesus ekaduba Tegee daba eyaikai, Tuhan Yesus Ekaduba meiya akaiye Ootiyaa, Tuhan Yesus ekaduba to peu tekiya; artinya, Dalam nama Yesus – dalam nama Yesus ada kemenangan, dalam nama Yesus, dalam nama Yesus iblis dikalahkan, dalam nama Tuhan Yesus siapa dapat melawan, dalam nama Tuhan Yesus ada kemenangan’.

Tugu (KEMAH INJIL) Empat Berganda 
Ketika gerakan pembasmian budaya dan kehidupan ini jalan dari gereja ke gereja di kawasan danau Paniai, saat itu saya masih dibangku sekolah dasar YPPGI Emaibo, kampung Kiuto dan ikut menyanyikan lagu ini. Para aktor pembasmi nilai-nilai hidup tadi dinyanyikan engan semangat yang berapi-api dimimbar Tuhan seperti mereka sudah menang dari segala jenis noda 4 Makewa Kisah hidup perintis gereja Kingmi tanah Papua dan dosa dijalan Tuhan tetapi itulah iman bergaya saleh di jalan Tuhan tetapi  dalam ketidak sadarannya menari-nari depan Tuhan dan umatNya dalam upaya pembunuhan karakter hidup suku bangsanya sendiri  yang pada akhirnya terciptanya masyarakat yang bermasa bodoh terhadap perubahan dan bimbang dijalan Tuhan untuk bagaimana dan dimana tempat penerapan injil atau khobah-khobah pak pendeta, hasil ceramah-ceramah dan seminar digereja selama ini. Nilai-nilai budaya import (dunia barat dan orang Ambon dalam gereja ini) melalui pewartaan agama Kristen tadi pada puncak amarahnya terbukti dalam Sidang Konas 2006 di Bogor dengan mengakui Gereja Kingmi Sidone Papua adalah Gereja Berlumuran darah (dikisahkan oleh Maya Paksoal dalam keadaan selingan air mata depan sidang Nasional ini). Penyataan ini sama dengan ayahnya yang kita akui pionir gereja ini telah dua kali, pertama kali di gereja Rehobot tempat dimana ia menjadi gembala sidang dan kedua kalinya dalam khotbah di Bethesda Abepura saat Raker Klasis Pantai Jayapura dengan judul ‘anak panah yang cemerlang’ dalam kitab Mazmur psl ayat ini. Khotbahnya ini dalam pemahaman .

Mulai memahami hal-hal kecil supaya menjadi alat.
Penulis adalah penyantun ISSP Enarotali, Papua


Menjadi Gerejah Penabur Benih
07.44.00

Menjadi Gerejah Penabur Benih

Minggu, 22 Maret 2015

HIS STORY – CERITA ALLAH, CERITA TENTANG KERAJAAN ALLAH
MART 22/23,2015 LEAVE A COMMENT
Para Pegikut Mudah Jesus
Kerajaan Allah adalah Umat di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah. Kerajaan Allah didefinisikan sebagai “Umat Allah, di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah” (Graeme Goldsworthy). Cerita alam semesta adalah cerita tentang Allah, dan cerita tentang Allah adalah tentang Kerajaan-Nya, Kuasa dan Kedaulatannya di dalam alam ciptaan ini. Dengan definisi ini, Firman Tuhan bisa digambarkan dalam aspek-aspek sebagai berikut: (Robert Vaughn, God’s Big Picture)

Perjanjian Lama 
Pola kerajaan. Di taman Eden kita melihat dunia seperti rancangan Tuhan. Umat ​​Allah yaitu Adam dan Hawa, tinggal di rumah Allah, yaitu di taman, di bawah pemerintahan-Nya karena mereka tunduk pada firman-Nya. Dan berada di bawah pemerintahan Allah dalam Alkitab berarti selalu menikmati berkat-Nya; itu adalah cara terbaik untuk hidup. Ciptaan awal Allah menunjukkan model kerajaan-Nya seperti yang dirancangkan-Nya.

Kerajaan yang hancur. Sayangnya, Adam dan Hawa berpikir hidup akan lebih baik jika mereka tinggal terpisah dari Allah. Hasilnya bencana. Mereka tidak lagi umat Allah. Mereka berpaling dari dia dan dia merespon dengan berpaling dari mereka. Mereka tidak lagi di tempat Allah; Ia mengusir mereka dari taman. Dan mereka tidak berada di bawah pemerintahan Allah, sehingga mereka tidak menikmati berkat-Nya. Sebaliknya, mereka menghadapi kutukan dan berada di bawah penilaiannya. Situasi ini sangat suram. Tapi Tuhan, cinta-Nya yang besar, bertekad untuk memulihkan kerajaannya. 

Kerajaan yang dijanjikan. Allah memanggil Abraham dan membuat beberapa janji tanpa syarat kepadanya: melalui keturunan Abraham ia akan membangun kembali kerajaannya. Mereka akan menjadi umat-Nya, yang tinggal di tanahnya dan menikmati berkat-Nya, dan melalui mereka semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji itu adalah Injil. Hal ini sebagian digenapi dalam sejarah Israel, tetapi hanya akhirnya dipenuhi melalui Yesus Kristus. 

Kerajaan parsial. Alkitab mencatat bagaimana janji Allah kepada Abraham yang sebagian dipenuhi dalam sejarah Israel. Melalui eksodus dari Mesir, Allah membuat keturunan Abraham rakyatnya sendiri. Di Mount Sinai ia memberi mereka hukum-Nya sehingga mereka bisa hidup di bawah pemerintahannya dan menikmati berkat-Nya, seperti Adam dan Hawa yang telah dilakukan sebelum mereka berdosa. Berkat ditandai terutama oleh kehadiran Allah dengan umat-Nya dalam tabernakel. Di bawah Joshua mereka memasuki tanah dan, pada saat Raja Daud dan Salomo, mereka menikmati perdamaian dan kemakmuran di sana. Itu adalah titik tinggi dari sejarah Israel. Mereka adalah umat Tuhan di tempat Allah, tanah Kanaan, di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Tapi janji-janji kepada Abraham masih belum sepenuhnya terpenuhi. Masalahnya adalah dosa, ketidaktaatan terus-menerus dari orang Israel. Itu segera mengarah pada pembongkaran kerajaan parsial sebagai Israel runtuh. 

Kerajaan dinubuatkan. Setelah kematian perang sipil Raja Salomo pecah dan kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian: Israel di utara dan Yehuda di selatan. Tak ada yang kuat. Setelah 200 tahun keberadaannya terpisah, kerajaan utara Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur. Kerajaan selatan berjuang selama abad lain, tapi kemudian juga ditaklukkan dan penduduknya dibawa ke pengasingan di Babel. Selama periode ini menyedihkan dalam sejarah mereka Tuhan berbicara kepada orang-orang Israel dan Yehuda melalui beberapa nabi. Dia menjelaskan bahwa mereka sedang dihukum karena dosa mereka tetapi masih menawarkan harapan untuk masa depan. Para nabi menunjuk ke depan ke waktu ketika Tuhan akan bertindak tegas melalui Raja Nya, Mesias, untuk memenuhi semua janji-Nya. Orang-orang Yehuda pasti berpikir bahwa waktu itu telah datang ketika mereka diizinkan untuk kembali dari pengasingan, tapi Tuhan membuat jelas bahwa waktu yang tepat keselamatan masih di masa depan. Itu adalah di mana Perjanjian Lama berakhir: menunggu Raja Allah muncul untuk memperkenalkan kerajaannya.

Perjanjian Baru
Kerajaan Zaman Ini.  Empat ratus tahun berlalu setelah selesainya Perjanjian Lama sebelum Yesus memulai pelayanan publik dengan kata-kata, ‘Waktunya telah tiba. . . Kerajaan Allah sudah dekat ‘(Markus 1:15).  Menunggu itu lebih; Raja Allah datang untuk mendirikan Kerajaan Allah. Hidupnya, pengajaran dan mujizat semua membuktikan bahwa dia yang katanya dia: Allah sendiri dalam bentuk manusia. Dia memiliki kekuatan untuk meletakkan segala sesuatu kembali seperti semula, dan ia memilih cara yang sangat mengejutkan untuk melakukannya: dengan mati kelemahan di kayu salib.

Itu kematiannya bahwa Yesus berurusan dengan masalah dosa dan memungkinkan bagi manusia untuk kembali ke dalam hubungan dengan Bapa-Nya. Kebangkitan membuktikan keberhasilan rescuemission Yesus di kayu salib dan mengumumkan bahwa ada harapan bagi dunia kita. Mereka yang percaya di dalam Kristus dapat berharap untuk hidup yang kekal dengan dia. 

Kerajaan yang Dinyatakan. Oleh kematian dan kebangkitan-Nya Yesus melakukan semua yang diperlukan untuk menempatkan segalanya dengan benar lagi dan benar-benar mengembalikan kerajaan Allah. Tapi dia tidak menyelesaikan pekerjaan ketika ia pertama di bumi. Ia naik ke surga dan membuat jelas bahwa akan ada penundaan sebelum ia kembali. Penundaan ini untuk memungkinkan lebih banyak orang untuk mendengar tentang kabar baik Kristus sehingga mereka dapat menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya dan siap untuk dia ketika dia datang. Kita hidup selama periode ini, yang menyebut Alkitab ‘hari-hari terakhir. Ini dimulai pada hari Pentakosta ketika Allah telah menyuruh Roh untuk melengkapi gereja untuk memberitahu seluruh dunia tentang Kristus. 

Kerajaan disempurnakan. Suatu hari Kristus akan kembali. Akan ada pemisahan besar. Musuh-musuhnya akan dipisahkan dari hadapan-Nya di neraka, namun rakyatnya akan bergabung dengannya dalam ciptaan baru yang sempurna. Lalu akhirnya janji-janji Injil akan benar-benar terpenuhi. Kitab Wahyu menggambarkan kerajaan sepenuhnya pulih: umat Allah, orang-orang Kristen dari segala bangsa, di tempat Allah, ciptaan baru (surga), di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Dan tidak ada yang dapat merusak happy ending ini. Hal ini tidak dongeng; mereka benar-benar semua akan hidup bahagia selamanya.

Cerita ini hanya refleksi diri dan Anda bisa memahami apa dari isi kutipan dalam alkitab. Semogah bermanfaat bagi anda dan kita semua bagi pengikut Tuhan Jesus.
Gaya Hidup, Komunitas, Teosentris
02.58.00

Gaya Hidup, Komunitas, Teosentris

Sabtu, 14 Maret 2015

Post : Natan Pigai
“Begitu sangat mahalnya harga dari sebuah kata penghargaan itu terucap keluar dalam hati diantara kita orang Mee. Dan ini terjadi di seluruh kabupaten yang ada di wilayah Meuwodide. Akibat tak menghargai apa yang dilakukan orang lain membuat kita orang Mee taputar di tempat, baku tuding sana sini. Alangkah baiknya kita belajar kepada semut agar kita tau menghargai orang lain”
Catatan ini ditulis dari pengalaman hidup selama 7 (tujuh) tahun yakni dari 2008 hingga 2015, tinggal dan menetap di negriku wisellmeren, tepatnya di kota enarotali. Telah banyak hal yang kujalani di negriku. Menjalani hidup apa adanya di kota tua ini. Mulai menjalani profesi jadi tukang ojek, gabung jadi anggota panwaslu distrik, PNS dan bergabung di dunia kuli tinta, Jurnalistik. Saat bergabung di dunia kuli tinta sejak awal 2011, banyak hal yang telah kudapati dari pengalamanku bergabung di dunia ini.
Telah banyak kutemukan tembok tembok yang tertanam puluhan tahun lamanya antara kelompok, golongan, marga, batas wilayah dan lain lain. Sekat itu sangat kuat dan susah untuk mendobrak agar dapat menembus pagar beton yang telah tertanam begitu kuat dari generasi ke generasi. Petak itulah yang disebut Ideologi egoisme individual.
Paham tersebut membuat jurang pemisah yang sangat dalam hingga tak dapat temukan alasnya. Sedih, melihat realitas ini yang terjadi dikehidupan masyarakat yang disebut intelektual hingga ke akar rumput.
“Mahalnya sebuah kata penghargaan terucap keluar dari dalam hati kepada orang lain”
Kalimat tanda kutip diatas inilah yang menjadi bahan refleksiku selama tinggal dan menetap di negriku sendiri. Jarang kutemukan orang orang yang bisa menghargai hasil karya orang lain, hanyalah sebagian kecil orang yang dapat mengakui apa yang baik dibuat oleh orang lain.
Bekerjasama
Bekerjasama
Hal itulah yang sangat berdampak buruk dikehidupan social masyarakat yang ada di wiselmerren, Paniai. karakter keras kepala, tak bisa saling mendengar pendapat orang lain, hanya pendapat saya yang benar kalian tidak. Inilah sekelumit persoalan yang ada dalam diri kita orang Mee. Itulah yang disebut kekerasan non fisik yang pastinya berujung pada kekerasan fisik. Hal ini tak hanya terjadi di Paniai saja, namun di seluruh wilayah meuwodide seperti di Deiya, Dogiyai dan Nabire.
Banyak dari kita orang Mee lebih memfokuskan pikiran kita ke hal hal yang tidak kita inginkan misalnya menceritakan kejelekan orang lain, meghakimi orang lain atas kesalahannya dan hal hal yang negative. Bukannya, hal hal baik atau positif yang dilakukan orang lain. Ideologi seperti itulah yang membuat Indeks Pembangunan Manusia IPM di wilayah Meuwodede sangat mengkwatirkan.
Merendahkan diri
Setelah menghabiskan waktu begitu banyak merenungi akan persoalan ini kurang lebih selama 4 (empat) tahun, baru kusadari bahwa kunci untuk membongkar ideologi tersebut adalah hanya dengan satu kalimat ini “Merendahkan Diri” inilah kunci dari jawaban hasil renunganku selama ini.
Merendahkan diri berarti kita menghargai hasil karya apa saja hal baik yang telah dilakukan oleh orang lain. Saling menghargai itu sangat penting kita junjung tinggi bersama sama, karena hanya dengan tindakan tersebut perubahan akan pemulihan di negri kita pasti terwujud. Ini kalimat kunci agar kita keluar dari krisis yang melanda seluruh wilayah Meuwodide.
saling-mengasihi-dan-menghormati
saling-mengasihi-dan-menghormati
Mari kita bersama sama memberikan dukungan kepada siapa saja dia yang melakukan hal hal baik. Ini sangat penting sekali kita lakukan demi terwujudnya sebuah perubahan di wilayah kita. Tak ada cara lain selain metode ini.
Tidak terlalu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkan pembangunan disegala bidang ke apa saja yang menjadi keinginan kita bersama sama demi terwujudnya kejayaan hidup yakni jadi tuan di negeri sendiri. Jadi, mari kita mulai melaksanakan satu kalimat kunci jawaban dari persoalan yang melilit kita. Itu sudah kunci jawabannya, Tidak ada jalan lain untuk keluar dari sekelumit persoalan yang terjadi di seluruh wilayah Meuwodide ini, selain kunci jawaban tersebut yakni merendahkan diri.
“Itu sudah solusi terbaik yang wajib kita pegang, renungkan dan melaksanakannya dalam kehidupan tiap diri kita terlebih dahulu, di keluarga, tetangga, lingkungan disekitar kita dan dimana saja kita berada”
Merendahkan diri wajib menjadi motto kita bersama sama dikehidupan kita orang Mee. Hal tersebut harus menjadi renungan kita bersama sama agar kita dapat melakukannya dikehidupan sehari hari, baik itu di rumah, sekolah, tempat kerja dan dimana saja kita berada.
Saya percaya, Ugatame pasti bekerja keras bersama kita untuk mewujudkan pemulihan secara total di seluruh wilayah Meuwodide ini karena Tuhan memegang perkataanNya sendiri yakni mewajibkan kita untuk “Merendahkan Diri”.

Enarotali, 150306
Sumber : http://www.humaspemdapaniai.com/opini/mahalnya-harga-untuk-sebuah-ucapan-penghargaan.html
Mahalnya harga sebuah ucapan Penghargaan
21.28.00

Mahalnya harga sebuah ucapan Penghargaan

Kamis, 12 Maret 2015

Location Village Uwodege,Paniai.Papua
KAMPUNG HALAMAN
Post : Kerinduan Hati

Sudah lama blog ini tidak terisi dengan entry baru. Suram sunyi dibuatnya. Kadang kala keinginan ada, tapi masa pula tidak mengizinkan. Kadang-kadang bersemangat untuk menulis, tetapi benda lain pula dibuatnya. Macam-macam ragam hidup ini. Kampung halaman adalah sebuah tempat paling indah di dalam hidup kita. Di saat kita merantau mengadu nasib di luar kota atau kampung halaman kita, tentu saja kita pernah merasakan rindu terhadap suasana kampung halaman mungkin karena suasana yang sangat indah dan pemandangan nya bagus. Sudah lama rasanya tak bersama masyarakat kampung Uwodege di sini. Dulu dan kini, banyak perubahannya. Kata orang, suasana kampung ini, boleh merehatkan indah kita seketika, setelah banyak “kerja” yang bertimbun di tempat belajar. Mungkin ada benarnya juga. Tetapi, sebagai aktivis dakwah ini, kata orang kerjanya setiap masa. Masa indah pun ada di kampung ini. Kini tinggalkan sebentar “program”, kertas kerja,  dalam perkuliaan ini masalah dan perkara yang sewaktu dengannya di tempat sepatutnya. Kita bercerita tentang suasana kampung kita sahaja dulu.                             
Jauh sudah kaki ini melangkah, teringat akan "kampung halaman" membuat hati makin gundah. hanya ingatan yang kian menjadi, saat kerinduan itu datang. kampung tercintaku, tunggulah aku pulang.

“Kemanapun aku pergi, bayang-bayangmu mengejar.
Bersembunyi dimanapun, slalu engkau temukan.
Aku merasa letih, dan ingin sendiri.. (Ebiet G.Ade )

                   
                     Tiada Negeri Paling Indah,Selain Kampung Halaman

Saya rasa kita semua akan setuju dengan ini,Negeri yang paling indah adalah negeri dimana pernah suatu waktu darah kelahiran bersimbah dengan tubuh semasa bayi ketika kita dilahirkan dari rahim Ibu kandung.Tak ada lagi negeri,tak ada lagi lokasi kenangan paling berkesan selain kampung tempat pertama kali kita berkelana di dunia ini. Dimanapun kita berada saat ini,di seluruh pelosok dunia, di segala tempat nun jauh di perantauan,suatu waktu kerinduan ke kampung halaman akan Anda rasakan.

Dinamisnya kehidupan membuat beberapa orang harus setengah terpaksa meninggalkan kampung kelahiran.Banyak motivasinya meninggalkan kampung kelahiran,ada yang karena tuntutan pekerjaan,studi mencari ilmu,dibawa oleh pasangan hidup yang berbeda kampung atau karena ingin merubah nasib lalu merantau ke segala pelosok dunia. Namun setelah kita sukes,setelah kita berhasil baik berhasil pendidikan,mendapat ilmu beserta gelar dan titel yang berderet-deret misalnya.Atau ketika sudah berhasil mendapatan harta dan jabatan,akan tidak "puas' jikalau kampung halaman kita tidak mengetahuinya.Atau akan kurang kepuasan hidup jika suksesnya kita tidak ada kontak atau terlalu jauh bahkan meninggalkan kampung halaman.

Berbeda jika setelah merantau,pergi berkelana lalu berhasil dan sukses lahiriah batiniah,lalu bisa berkumpul bersama handai taulan dan sanak keluarga,suksesnya terbawa ke kampung halaman dan bisa berjasa untuk warga kampung halaman,atau dalam lingkup lebih luas bisa berjasa bagi sesama satu negeri,maka kesuksesan yang diraih kita akan berbeda "rasa puas'nya. Akan merasakan kepuasan tersendiri jika sukses kita bisa dinikmati di kampung halaman sendiri,baik secara domisili,bertempat tinggal atau bisa berjasa nyata memajukan warga,keluarga dan daerah kampung kelahiran.

Mungkin dari ada rasa inilah yang kemudian selalu ada budaya "mudik' pulang kampung bagi banyak orang yang merantau.Dan ketika di kampung maka akan lebih puas jika mudiknya membawa kesuksesan,baik sukses secara pribadi maupun suskes bersama keluarga. Indah sekali kalau kita sukses lalu bisa tetap tinggal di kampung kelahiran,mengabdi kepada negeri,berkarya bagi sesama,menebar manfaat kepada semua umat dan dengan tetap bertempat tinggal di kampung sendiri.Terutama di tanah asal kelahiran kita ketika baru mengisi dunia fana ini.

Salam rindu kampung buat semua pembaca.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak sesama, minimal bisa manfaat bagi warga sekampung tanah kelahiran kita. Salam.


“Ramai orang yang boleh hidup dalam taat mengigat kampung halaman nya, tetapi sangat susah kalau pendidikan yang memisahkan kita”
POST : BMP - JOGJA 2013
Kenangan Di Kampung Halaman
10.01.00

Kenangan Di Kampung Halaman

Free West Papua
A Tale of a Flag
1 Desember 2013 pukul 5:57

This is a tale about a flag named "Bintang Kejora, or Morning Star.
As with other flags ever created, it symbolizes identity and conveys particular messages the creator would like other people that see it to understand.
But unlike other flags, the Morning Star flag is different. Its creation rendered the power outside of it to repress the identity and message it wants to convey. It conversed sovereignty into sufferings, as more and more human bodies, the West Papuans, have to be ill treated or persecuted of being accused of committing wrong to the Indonesia state.
What is right, human rights, then turned out to be very wrong for the power that rule the territory. Unlike other flags ever raised in other areas in Indonesia, such as the Yogyakarta Kraton flag, the raising of Morning Star is subversive to the very fundamental base of Indonesia’s territorial unitary state, or Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

December the 1st, each year, marked the conversion of the flag. Fifty two years ago, the Dutch who colonized the territory called Dutch New Guinea gave the recognition to the flag to raise together with the Nethelands’ national flag, and marked the commitment for the Dutch to prepare the transition for independence. The flag raised high to the sky but only lasted for two years, before Indonesia state banned it. And so it has never been up again, to tell the world about peace and sovereignty. Every West Papuan who tried to raise it will bare the consequences of loosing his lives either in prison or in grave. Or perhaps in none of those places when both life and body are unknown their whereabouts such as tens to hundreds of West Papuans that went missing after military tanks and personnel crushed a gathering of the flag raising led by Filep Karma in Biak, 1998.
It was a Papuan named Tom Beanal, with ninety-nine other Papuans, who loudly state that the day when the flag was first raise, 1st of December, is the day of West Papuan independence. He said it in front of Habibie, Soeharto’s  successor as the President of the Republic of Indonesia. A scholar, Richard Chauvel, notes that the perception of the flag’s raising on that particular date in the then new political transition in Indonesia gave a new meaning for a nationalist identity of the West Papuans, and convey a message for a new hope for independence (Chauvel, 2005).
In 2001, the then President Abdurrahman Wahid, allowed the flag to rise again that year. The Papuans were overwhelmed with joy and new hopes, despite of the facts of their self-proclaimed leader Theys Eluay were jailed by Indonesia’s authority (which then released and murdered in the same year).

The next story is again dark and dishearten.The Bintang Kejora has again conversed from a symbol for sovereignty any human need to continue his/her life, into a symbol of the oppressed body, the body full of sins of being itself and thus eligible to be destroyed by the power that rule over it. Every body and soul, who wish to see this piece of cloth with a picture of morning star perform its symbol of sovereignty, will add to more stories of grievances. At the same time, this flag has become more and more strongly wave up in every Papuan’s heart, as hopes for sovereign souls and nation becomes stronger each day.
At the flip side of the coin, the flag is more and more threatening for Indonesian authority. Every years before and during 1st December the central government overly reacted to their own insecurity by deploying thousands of military and police personnel to Papua. It’s for the sake of the security of the Indonesian power, indeed, not for the West Papuans, by showing off power and brutally suppresses anyone who has the intention to raise the flag. Anyone.
This year, since the last few weeks before1st of December, already 33 activists members of Komite Nasional Papua Barat (KNPB or National Committee for West Papua) has been arrested and local media Tabloid Jubi reported intimidation against four of its journalists. Amnesty International reported the strong indication of torture and other formsof ill treatment they have in detention, and extrajudial killing against some of the activists (Amnesty International, 2013). The last few days when I’m writing this, already several shootings were reported in some areas in Papua.

No willingness for any peace dialogue by the Indonesian government has ever expressed. Instead, the choice is always by force and new promises. But no beautiful promises from the central government can ever compensate every injured and destroyed body of the West Papuans who gave their lives to see the flag up in the sky all these times. Not even a promise of a new special autonomy scheme called ‘Otsus Plus’, nor the recent decision by Indonesian parliament to dissolve Papua into another 33 districts and three new provinces. A small numbers of local elites, unfortunately, would trade these souls with such promises, abandoning justice and dignity the rest of the West Papuan people have been struggled and sacrifice all these time. 

Justice, dignity, and sovereignty. These are the message every soul in Papua wish to convey throughthe.recognition of the Morning Star flag.

FREE WEST PAPUA
Bintang Kejora, or Morning Star
09.52.00

Bintang Kejora, or Morning Star