Minggu, 22 Maret 2015

HIS STORY – CERITA ALLAH, CERITA TENTANG KERAJAAN ALLAH
MART 22/23,2015 LEAVE A COMMENT
Para Pegikut Mudah Jesus
Kerajaan Allah adalah Umat di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah. Kerajaan Allah didefinisikan sebagai “Umat Allah, di rumah Allah, dalam kekuasaan Allah” (Graeme Goldsworthy). Cerita alam semesta adalah cerita tentang Allah, dan cerita tentang Allah adalah tentang Kerajaan-Nya, Kuasa dan Kedaulatannya di dalam alam ciptaan ini. Dengan definisi ini, Firman Tuhan bisa digambarkan dalam aspek-aspek sebagai berikut: (Robert Vaughn, God’s Big Picture)

Perjanjian Lama 
Pola kerajaan. Di taman Eden kita melihat dunia seperti rancangan Tuhan. Umat ​​Allah yaitu Adam dan Hawa, tinggal di rumah Allah, yaitu di taman, di bawah pemerintahan-Nya karena mereka tunduk pada firman-Nya. Dan berada di bawah pemerintahan Allah dalam Alkitab berarti selalu menikmati berkat-Nya; itu adalah cara terbaik untuk hidup. Ciptaan awal Allah menunjukkan model kerajaan-Nya seperti yang dirancangkan-Nya.

Kerajaan yang hancur. Sayangnya, Adam dan Hawa berpikir hidup akan lebih baik jika mereka tinggal terpisah dari Allah. Hasilnya bencana. Mereka tidak lagi umat Allah. Mereka berpaling dari dia dan dia merespon dengan berpaling dari mereka. Mereka tidak lagi di tempat Allah; Ia mengusir mereka dari taman. Dan mereka tidak berada di bawah pemerintahan Allah, sehingga mereka tidak menikmati berkat-Nya. Sebaliknya, mereka menghadapi kutukan dan berada di bawah penilaiannya. Situasi ini sangat suram. Tapi Tuhan, cinta-Nya yang besar, bertekad untuk memulihkan kerajaannya. 

Kerajaan yang dijanjikan. Allah memanggil Abraham dan membuat beberapa janji tanpa syarat kepadanya: melalui keturunan Abraham ia akan membangun kembali kerajaannya. Mereka akan menjadi umat-Nya, yang tinggal di tanahnya dan menikmati berkat-Nya, dan melalui mereka semua bangsa di bumi akan diberkati. Janji itu adalah Injil. Hal ini sebagian digenapi dalam sejarah Israel, tetapi hanya akhirnya dipenuhi melalui Yesus Kristus. 

Kerajaan parsial. Alkitab mencatat bagaimana janji Allah kepada Abraham yang sebagian dipenuhi dalam sejarah Israel. Melalui eksodus dari Mesir, Allah membuat keturunan Abraham rakyatnya sendiri. Di Mount Sinai ia memberi mereka hukum-Nya sehingga mereka bisa hidup di bawah pemerintahannya dan menikmati berkat-Nya, seperti Adam dan Hawa yang telah dilakukan sebelum mereka berdosa. Berkat ditandai terutama oleh kehadiran Allah dengan umat-Nya dalam tabernakel. Di bawah Joshua mereka memasuki tanah dan, pada saat Raja Daud dan Salomo, mereka menikmati perdamaian dan kemakmuran di sana. Itu adalah titik tinggi dari sejarah Israel. Mereka adalah umat Tuhan di tempat Allah, tanah Kanaan, di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Tapi janji-janji kepada Abraham masih belum sepenuhnya terpenuhi. Masalahnya adalah dosa, ketidaktaatan terus-menerus dari orang Israel. Itu segera mengarah pada pembongkaran kerajaan parsial sebagai Israel runtuh. 

Kerajaan dinubuatkan. Setelah kematian perang sipil Raja Salomo pecah dan kerajaan Israel terpecah menjadi dua bagian: Israel di utara dan Yehuda di selatan. Tak ada yang kuat. Setelah 200 tahun keberadaannya terpisah, kerajaan utara Israel dihancurkan oleh bangsa Asyur. Kerajaan selatan berjuang selama abad lain, tapi kemudian juga ditaklukkan dan penduduknya dibawa ke pengasingan di Babel. Selama periode ini menyedihkan dalam sejarah mereka Tuhan berbicara kepada orang-orang Israel dan Yehuda melalui beberapa nabi. Dia menjelaskan bahwa mereka sedang dihukum karena dosa mereka tetapi masih menawarkan harapan untuk masa depan. Para nabi menunjuk ke depan ke waktu ketika Tuhan akan bertindak tegas melalui Raja Nya, Mesias, untuk memenuhi semua janji-Nya. Orang-orang Yehuda pasti berpikir bahwa waktu itu telah datang ketika mereka diizinkan untuk kembali dari pengasingan, tapi Tuhan membuat jelas bahwa waktu yang tepat keselamatan masih di masa depan. Itu adalah di mana Perjanjian Lama berakhir: menunggu Raja Allah muncul untuk memperkenalkan kerajaannya.

Perjanjian Baru
Kerajaan Zaman Ini.  Empat ratus tahun berlalu setelah selesainya Perjanjian Lama sebelum Yesus memulai pelayanan publik dengan kata-kata, ‘Waktunya telah tiba. . . Kerajaan Allah sudah dekat ‘(Markus 1:15).  Menunggu itu lebih; Raja Allah datang untuk mendirikan Kerajaan Allah. Hidupnya, pengajaran dan mujizat semua membuktikan bahwa dia yang katanya dia: Allah sendiri dalam bentuk manusia. Dia memiliki kekuatan untuk meletakkan segala sesuatu kembali seperti semula, dan ia memilih cara yang sangat mengejutkan untuk melakukannya: dengan mati kelemahan di kayu salib.

Itu kematiannya bahwa Yesus berurusan dengan masalah dosa dan memungkinkan bagi manusia untuk kembali ke dalam hubungan dengan Bapa-Nya. Kebangkitan membuktikan keberhasilan rescuemission Yesus di kayu salib dan mengumumkan bahwa ada harapan bagi dunia kita. Mereka yang percaya di dalam Kristus dapat berharap untuk hidup yang kekal dengan dia. 

Kerajaan yang Dinyatakan. Oleh kematian dan kebangkitan-Nya Yesus melakukan semua yang diperlukan untuk menempatkan segalanya dengan benar lagi dan benar-benar mengembalikan kerajaan Allah. Tapi dia tidak menyelesaikan pekerjaan ketika ia pertama di bumi. Ia naik ke surga dan membuat jelas bahwa akan ada penundaan sebelum ia kembali. Penundaan ini untuk memungkinkan lebih banyak orang untuk mendengar tentang kabar baik Kristus sehingga mereka dapat menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya dan siap untuk dia ketika dia datang. Kita hidup selama periode ini, yang menyebut Alkitab ‘hari-hari terakhir. Ini dimulai pada hari Pentakosta ketika Allah telah menyuruh Roh untuk melengkapi gereja untuk memberitahu seluruh dunia tentang Kristus. 

Kerajaan disempurnakan. Suatu hari Kristus akan kembali. Akan ada pemisahan besar. Musuh-musuhnya akan dipisahkan dari hadapan-Nya di neraka, namun rakyatnya akan bergabung dengannya dalam ciptaan baru yang sempurna. Lalu akhirnya janji-janji Injil akan benar-benar terpenuhi. Kitab Wahyu menggambarkan kerajaan sepenuhnya pulih: umat Allah, orang-orang Kristen dari segala bangsa, di tempat Allah, ciptaan baru (surga), di bawah kekuasaan Allah dan karena itu menikmati berkat-Nya. Dan tidak ada yang dapat merusak happy ending ini. Hal ini tidak dongeng; mereka benar-benar semua akan hidup bahagia selamanya.

Cerita ini hanya refleksi diri dan Anda bisa memahami apa dari isi kutipan dalam alkitab. Semogah bermanfaat bagi anda dan kita semua bagi pengikut Tuhan Jesus.
Gaya Hidup, Komunitas, Teosentris
02.58.00

Gaya Hidup, Komunitas, Teosentris

Sabtu, 14 Maret 2015

Post : Natan Pigai
“Begitu sangat mahalnya harga dari sebuah kata penghargaan itu terucap keluar dalam hati diantara kita orang Mee. Dan ini terjadi di seluruh kabupaten yang ada di wilayah Meuwodide. Akibat tak menghargai apa yang dilakukan orang lain membuat kita orang Mee taputar di tempat, baku tuding sana sini. Alangkah baiknya kita belajar kepada semut agar kita tau menghargai orang lain”
Catatan ini ditulis dari pengalaman hidup selama 7 (tujuh) tahun yakni dari 2008 hingga 2015, tinggal dan menetap di negriku wisellmeren, tepatnya di kota enarotali. Telah banyak hal yang kujalani di negriku. Menjalani hidup apa adanya di kota tua ini. Mulai menjalani profesi jadi tukang ojek, gabung jadi anggota panwaslu distrik, PNS dan bergabung di dunia kuli tinta, Jurnalistik. Saat bergabung di dunia kuli tinta sejak awal 2011, banyak hal yang telah kudapati dari pengalamanku bergabung di dunia ini.
Telah banyak kutemukan tembok tembok yang tertanam puluhan tahun lamanya antara kelompok, golongan, marga, batas wilayah dan lain lain. Sekat itu sangat kuat dan susah untuk mendobrak agar dapat menembus pagar beton yang telah tertanam begitu kuat dari generasi ke generasi. Petak itulah yang disebut Ideologi egoisme individual.
Paham tersebut membuat jurang pemisah yang sangat dalam hingga tak dapat temukan alasnya. Sedih, melihat realitas ini yang terjadi dikehidupan masyarakat yang disebut intelektual hingga ke akar rumput.
“Mahalnya sebuah kata penghargaan terucap keluar dari dalam hati kepada orang lain”
Kalimat tanda kutip diatas inilah yang menjadi bahan refleksiku selama tinggal dan menetap di negriku sendiri. Jarang kutemukan orang orang yang bisa menghargai hasil karya orang lain, hanyalah sebagian kecil orang yang dapat mengakui apa yang baik dibuat oleh orang lain.
Bekerjasama
Bekerjasama
Hal itulah yang sangat berdampak buruk dikehidupan social masyarakat yang ada di wiselmerren, Paniai. karakter keras kepala, tak bisa saling mendengar pendapat orang lain, hanya pendapat saya yang benar kalian tidak. Inilah sekelumit persoalan yang ada dalam diri kita orang Mee. Itulah yang disebut kekerasan non fisik yang pastinya berujung pada kekerasan fisik. Hal ini tak hanya terjadi di Paniai saja, namun di seluruh wilayah meuwodide seperti di Deiya, Dogiyai dan Nabire.
Banyak dari kita orang Mee lebih memfokuskan pikiran kita ke hal hal yang tidak kita inginkan misalnya menceritakan kejelekan orang lain, meghakimi orang lain atas kesalahannya dan hal hal yang negative. Bukannya, hal hal baik atau positif yang dilakukan orang lain. Ideologi seperti itulah yang membuat Indeks Pembangunan Manusia IPM di wilayah Meuwodede sangat mengkwatirkan.
Merendahkan diri
Setelah menghabiskan waktu begitu banyak merenungi akan persoalan ini kurang lebih selama 4 (empat) tahun, baru kusadari bahwa kunci untuk membongkar ideologi tersebut adalah hanya dengan satu kalimat ini “Merendahkan Diri” inilah kunci dari jawaban hasil renunganku selama ini.
Merendahkan diri berarti kita menghargai hasil karya apa saja hal baik yang telah dilakukan oleh orang lain. Saling menghargai itu sangat penting kita junjung tinggi bersama sama, karena hanya dengan tindakan tersebut perubahan akan pemulihan di negri kita pasti terwujud. Ini kalimat kunci agar kita keluar dari krisis yang melanda seluruh wilayah Meuwodide.
saling-mengasihi-dan-menghormati
saling-mengasihi-dan-menghormati
Mari kita bersama sama memberikan dukungan kepada siapa saja dia yang melakukan hal hal baik. Ini sangat penting sekali kita lakukan demi terwujudnya sebuah perubahan di wilayah kita. Tak ada cara lain selain metode ini.
Tidak terlalu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkan pembangunan disegala bidang ke apa saja yang menjadi keinginan kita bersama sama demi terwujudnya kejayaan hidup yakni jadi tuan di negeri sendiri. Jadi, mari kita mulai melaksanakan satu kalimat kunci jawaban dari persoalan yang melilit kita. Itu sudah kunci jawabannya, Tidak ada jalan lain untuk keluar dari sekelumit persoalan yang terjadi di seluruh wilayah Meuwodide ini, selain kunci jawaban tersebut yakni merendahkan diri.
“Itu sudah solusi terbaik yang wajib kita pegang, renungkan dan melaksanakannya dalam kehidupan tiap diri kita terlebih dahulu, di keluarga, tetangga, lingkungan disekitar kita dan dimana saja kita berada”
Merendahkan diri wajib menjadi motto kita bersama sama dikehidupan kita orang Mee. Hal tersebut harus menjadi renungan kita bersama sama agar kita dapat melakukannya dikehidupan sehari hari, baik itu di rumah, sekolah, tempat kerja dan dimana saja kita berada.
Saya percaya, Ugatame pasti bekerja keras bersama kita untuk mewujudkan pemulihan secara total di seluruh wilayah Meuwodide ini karena Tuhan memegang perkataanNya sendiri yakni mewajibkan kita untuk “Merendahkan Diri”.

Enarotali, 150306
Sumber : http://www.humaspemdapaniai.com/opini/mahalnya-harga-untuk-sebuah-ucapan-penghargaan.html
Mahalnya harga sebuah ucapan Penghargaan
21.28.00

Mahalnya harga sebuah ucapan Penghargaan

Kamis, 12 Maret 2015

Location Village Uwodege,Paniai.Papua
KAMPUNG HALAMAN
Post : Kerinduan Hati

Sudah lama blog ini tidak terisi dengan entry baru. Suram sunyi dibuatnya. Kadang kala keinginan ada, tapi masa pula tidak mengizinkan. Kadang-kadang bersemangat untuk menulis, tetapi benda lain pula dibuatnya. Macam-macam ragam hidup ini. Kampung halaman adalah sebuah tempat paling indah di dalam hidup kita. Di saat kita merantau mengadu nasib di luar kota atau kampung halaman kita, tentu saja kita pernah merasakan rindu terhadap suasana kampung halaman mungkin karena suasana yang sangat indah dan pemandangan nya bagus. Sudah lama rasanya tak bersama masyarakat kampung Uwodege di sini. Dulu dan kini, banyak perubahannya. Kata orang, suasana kampung ini, boleh merehatkan indah kita seketika, setelah banyak “kerja” yang bertimbun di tempat belajar. Mungkin ada benarnya juga. Tetapi, sebagai aktivis dakwah ini, kata orang kerjanya setiap masa. Masa indah pun ada di kampung ini. Kini tinggalkan sebentar “program”, kertas kerja,  dalam perkuliaan ini masalah dan perkara yang sewaktu dengannya di tempat sepatutnya. Kita bercerita tentang suasana kampung kita sahaja dulu.                             
Jauh sudah kaki ini melangkah, teringat akan "kampung halaman" membuat hati makin gundah. hanya ingatan yang kian menjadi, saat kerinduan itu datang. kampung tercintaku, tunggulah aku pulang.

“Kemanapun aku pergi, bayang-bayangmu mengejar.
Bersembunyi dimanapun, slalu engkau temukan.
Aku merasa letih, dan ingin sendiri.. (Ebiet G.Ade )

                   
                     Tiada Negeri Paling Indah,Selain Kampung Halaman

Saya rasa kita semua akan setuju dengan ini,Negeri yang paling indah adalah negeri dimana pernah suatu waktu darah kelahiran bersimbah dengan tubuh semasa bayi ketika kita dilahirkan dari rahim Ibu kandung.Tak ada lagi negeri,tak ada lagi lokasi kenangan paling berkesan selain kampung tempat pertama kali kita berkelana di dunia ini. Dimanapun kita berada saat ini,di seluruh pelosok dunia, di segala tempat nun jauh di perantauan,suatu waktu kerinduan ke kampung halaman akan Anda rasakan.

Dinamisnya kehidupan membuat beberapa orang harus setengah terpaksa meninggalkan kampung kelahiran.Banyak motivasinya meninggalkan kampung kelahiran,ada yang karena tuntutan pekerjaan,studi mencari ilmu,dibawa oleh pasangan hidup yang berbeda kampung atau karena ingin merubah nasib lalu merantau ke segala pelosok dunia. Namun setelah kita sukes,setelah kita berhasil baik berhasil pendidikan,mendapat ilmu beserta gelar dan titel yang berderet-deret misalnya.Atau ketika sudah berhasil mendapatan harta dan jabatan,akan tidak "puas' jikalau kampung halaman kita tidak mengetahuinya.Atau akan kurang kepuasan hidup jika suksesnya kita tidak ada kontak atau terlalu jauh bahkan meninggalkan kampung halaman.

Berbeda jika setelah merantau,pergi berkelana lalu berhasil dan sukses lahiriah batiniah,lalu bisa berkumpul bersama handai taulan dan sanak keluarga,suksesnya terbawa ke kampung halaman dan bisa berjasa untuk warga kampung halaman,atau dalam lingkup lebih luas bisa berjasa bagi sesama satu negeri,maka kesuksesan yang diraih kita akan berbeda "rasa puas'nya. Akan merasakan kepuasan tersendiri jika sukses kita bisa dinikmati di kampung halaman sendiri,baik secara domisili,bertempat tinggal atau bisa berjasa nyata memajukan warga,keluarga dan daerah kampung kelahiran.

Mungkin dari ada rasa inilah yang kemudian selalu ada budaya "mudik' pulang kampung bagi banyak orang yang merantau.Dan ketika di kampung maka akan lebih puas jika mudiknya membawa kesuksesan,baik sukses secara pribadi maupun suskes bersama keluarga. Indah sekali kalau kita sukses lalu bisa tetap tinggal di kampung kelahiran,mengabdi kepada negeri,berkarya bagi sesama,menebar manfaat kepada semua umat dan dengan tetap bertempat tinggal di kampung sendiri.Terutama di tanah asal kelahiran kita ketika baru mengisi dunia fana ini.

Salam rindu kampung buat semua pembaca.
Semoga kita bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi banyak sesama, minimal bisa manfaat bagi warga sekampung tanah kelahiran kita. Salam.


“Ramai orang yang boleh hidup dalam taat mengigat kampung halaman nya, tetapi sangat susah kalau pendidikan yang memisahkan kita”
POST : BMP - JOGJA 2013
Kenangan Di Kampung Halaman
10.01.00

Kenangan Di Kampung Halaman

Free West Papua
A Tale of a Flag
1 Desember 2013 pukul 5:57

This is a tale about a flag named "Bintang Kejora, or Morning Star.
As with other flags ever created, it symbolizes identity and conveys particular messages the creator would like other people that see it to understand.
But unlike other flags, the Morning Star flag is different. Its creation rendered the power outside of it to repress the identity and message it wants to convey. It conversed sovereignty into sufferings, as more and more human bodies, the West Papuans, have to be ill treated or persecuted of being accused of committing wrong to the Indonesia state.
What is right, human rights, then turned out to be very wrong for the power that rule the territory. Unlike other flags ever raised in other areas in Indonesia, such as the Yogyakarta Kraton flag, the raising of Morning Star is subversive to the very fundamental base of Indonesia’s territorial unitary state, or Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

December the 1st, each year, marked the conversion of the flag. Fifty two years ago, the Dutch who colonized the territory called Dutch New Guinea gave the recognition to the flag to raise together with the Nethelands’ national flag, and marked the commitment for the Dutch to prepare the transition for independence. The flag raised high to the sky but only lasted for two years, before Indonesia state banned it. And so it has never been up again, to tell the world about peace and sovereignty. Every West Papuan who tried to raise it will bare the consequences of loosing his lives either in prison or in grave. Or perhaps in none of those places when both life and body are unknown their whereabouts such as tens to hundreds of West Papuans that went missing after military tanks and personnel crushed a gathering of the flag raising led by Filep Karma in Biak, 1998.
It was a Papuan named Tom Beanal, with ninety-nine other Papuans, who loudly state that the day when the flag was first raise, 1st of December, is the day of West Papuan independence. He said it in front of Habibie, Soeharto’s  successor as the President of the Republic of Indonesia. A scholar, Richard Chauvel, notes that the perception of the flag’s raising on that particular date in the then new political transition in Indonesia gave a new meaning for a nationalist identity of the West Papuans, and convey a message for a new hope for independence (Chauvel, 2005).
In 2001, the then President Abdurrahman Wahid, allowed the flag to rise again that year. The Papuans were overwhelmed with joy and new hopes, despite of the facts of their self-proclaimed leader Theys Eluay were jailed by Indonesia’s authority (which then released and murdered in the same year).

The next story is again dark and dishearten.The Bintang Kejora has again conversed from a symbol for sovereignty any human need to continue his/her life, into a symbol of the oppressed body, the body full of sins of being itself and thus eligible to be destroyed by the power that rule over it. Every body and soul, who wish to see this piece of cloth with a picture of morning star perform its symbol of sovereignty, will add to more stories of grievances. At the same time, this flag has become more and more strongly wave up in every Papuan’s heart, as hopes for sovereign souls and nation becomes stronger each day.
At the flip side of the coin, the flag is more and more threatening for Indonesian authority. Every years before and during 1st December the central government overly reacted to their own insecurity by deploying thousands of military and police personnel to Papua. It’s for the sake of the security of the Indonesian power, indeed, not for the West Papuans, by showing off power and brutally suppresses anyone who has the intention to raise the flag. Anyone.
This year, since the last few weeks before1st of December, already 33 activists members of Komite Nasional Papua Barat (KNPB or National Committee for West Papua) has been arrested and local media Tabloid Jubi reported intimidation against four of its journalists. Amnesty International reported the strong indication of torture and other formsof ill treatment they have in detention, and extrajudial killing against some of the activists (Amnesty International, 2013). The last few days when I’m writing this, already several shootings were reported in some areas in Papua.

No willingness for any peace dialogue by the Indonesian government has ever expressed. Instead, the choice is always by force and new promises. But no beautiful promises from the central government can ever compensate every injured and destroyed body of the West Papuans who gave their lives to see the flag up in the sky all these times. Not even a promise of a new special autonomy scheme called ‘Otsus Plus’, nor the recent decision by Indonesian parliament to dissolve Papua into another 33 districts and three new provinces. A small numbers of local elites, unfortunately, would trade these souls with such promises, abandoning justice and dignity the rest of the West Papuan people have been struggled and sacrifice all these time. 

Justice, dignity, and sovereignty. These are the message every soul in Papua wish to convey throughthe.recognition of the Morning Star flag.

FREE WEST PAPUA
Bintang Kejora, or Morning Star
09.52.00

Bintang Kejora, or Morning Star

Photo-love-friendship-3
Bila cinta didusta, tak perlu ditangisi. Relakan saja, biarkan ia pergi. Cinta itu logika, bukan hanya hati. Ketika kamu putuskan tuk memilih cinta, sama seperti memiliki pedang bermata dua. Bisa melindungi, atau menyakiti Tak perlu orang yang sempurna, karena yang kamu butuhkan adalah dia yang memperlakukanmu dengan baik dan selalu ingin bersamamu. Ketika dua hati tulus mencinta, tak ada waktu yang terlalu lama, tak ada jarak yang terlalu jauh, karena mereka tahu apa artinya setia. Cinta harus berasal dari hati.  Maka jika tidak dari hati, jangan pernah berucap bahwa kamu mencinta. Jika seseorang bahkan tak berusaha menyediakan waktunya untukmu, kamu harus berani memutuskan tuk berhenti mengharapkannya. Hidup terlalu singkat jika terus mengenang cintamu di masa lalu, disaat kamu bisa menciptakan cerita baru dengan yang mencintaimu. Wanita yang pintar tahu bagaimana mencintai seorang pria, tapi wanita yang pernah terluka tahu siapa yang pantas dicinta. Dalam cinta, berhati-hatilah dlm berkata, karena meski amarah menguasai logika, hatimu takkan berhenti merindukannya. Salah satu keputusan tersulit dalam cinta adalah ketika kamu harus memilih untuk bertahan atau melepaskan.

Tak ada cinta yg harus disembunyikan. Jika kamu harus melakukan itu hanya tuk bahagia, cintamu tak pantas dipertahankan. Dalam cinta, jangan menunggu orang yg tepat menghampiri hidupmu. Lebih baik jadilah orang yg tepat yg menhampiri hidup seseorang. Semua orang tahu bagaimana mencinta, tapi hanya sebagian orang yg tahu bagaimana tetap tinggal di satu hati tuk jangka waktu yg lama. Cinta berarti tanpa jarak. Ketika aku mengucapkan "Aku cinta kamu", tidak ada jarak antara hatiku dan hatimu. Selamat malam cinta. Jika cinta ungkapkan saja, katakan apa yang kamu rasakan. Jangan peduli kata orang lain karena hidup ini kamu yang menjalani. Lebih baik mencintai seseorang yang jauh tapi sangat menginginkan kebersamaan daripada seseorang yang dekat tapi tak peduli Jangan pernah membandingkan orang disekitarmu, terlebih orang yg kamu cintai. Tak ada manusia yg sempurna.

Cintai apa adanya. Hidup itu seperti permainan. Bukan untuk memenangkannya, tp memberi yg terbaik dan menikmati permainannya. Hal terbaik yg bs dilakukan wanita utk pria yg ia cintai adl memastikan bhw pria tsb lbh dr segalanya yg bs dibeli dgn uang. Hal terbaik yg bs dilakukan pria utk wanita yg ia cintai adl memastikan bhw wanita tersebut adl prioritas & tujuan hidupnya. Jika kamu habiskan waktu yakinkan orang yg tak cintaimu untuk mencintaimu, kamu kehilangan waktu untuk dicintai orang yg mencintaimu. Cinta tidak egois, tak juga memaksa. Ketika kebahagiaan orang yg kau cinta lebih penting daripada kebahagiaanmu. Itu CINTA. Mencintaimu memang membutuhkan ketulusan, tulus mencintaimu & tulus merelakanmu pergi dari hidupku Aku itu orangnya memang pendiam, diam-diam jatuh cinta kepadamu & diam-diam aku menahan perih karenamu. Jarak adalah sebuah test.

Dimana bisa menguatkan bisa juga menghancurkan... Jatuh cinta denganmu adalah hal yg mudah. Tapi untuk tetap mencintaimu perlu usaha keras... Ladies, kecantikan fisik hanya akan mendapat perhatian dari mata, tetapi kecantikan kepribadian akan mendapat perhatian dari hati. Jangan kembali pada dia yg telah buatmu terluka, hanya karena kamu tak sabar menunggu dia yg mampu buatmu bahagia. Dalam cinta, kamu tak perlu MENCARI orang yang tepat, tapi yang kamu perlukan adalah MENJADI orang yang tepat bagi dia yang kamu cinta. Jika kamu tak mau belajar mencinta, maka kamu nanti akan terbiasa membenci. Dan, suatu saat kamu akan bingung membedakan keduanya. *=
Cinta Itu Indah
09.46.00

Cinta Itu Indah

Post : Yan Christian Warinussy
Appalling’ Papuan human rights record has worsened in past decade, says advocate. The rights to freedom of expression and freedom of speech in the Land of Papuahave worsened in the past 10 years as a result of the repressive situation caused by the government of the Republic of Indonesia, both systematically and well as structurally. This is the result of the repressive activities of the security  forces, the Polri (police) and the TNI (army).

This is what happened  when the security forces attacked people after the closing session of the Third Papuan People’s Congress  in October 2011 in Jayapura as well as the attacks by the security forces against peaceful demonstrators on 6 June 1998 near the Water Tower in Biak.  As for structural violations, the Indonesian government has made use of a number of regulations by force to prevent ordinary people from publicly expressing their opinions regarding the political situation and the injustices experienced by Papuans as a result of the developmental activities that are now occurring. 

For example, the government used articles 106,108 and 110 of the law on procedural matters, that is to say the Penal Code, to punish  every action undertaken peacefully by Papuans to draw attention to the lack of social justice being experienced by Papuan civilians. Take for instance, the Aimas case on 30 April 2013 when Isak Kalaibin  and six colleagues  were charged with treason in Sorong as a result of which Apotos Sewa and a number of his colleagues were subjected to questioning non-stop for twelve hours  without being accompanied by lawyers. and they were then ordered  to report themselves regularly to the authorities. There was also the case of the abuse by two women police  officers of three women of the Mbaham Mata Tribe on 15 August 2013. 

Lack of Freedom 
(Executive director of the human rights organisation LP3BH)
All these cases are evidence  of the lack of freedom of expression which is being experienced structurally and systematically by Papuan people. All this has been happening as the result of lack of information everywhere about the situation in Papua. As a senior lawyer and defender of human rights in the Land of Papua, I call on the Indonesian government to recognise that the human rights situation in Papua is quite appalling. 
And the longer this situation continues, political awareness  will grow within the community as well as an awareness across the world that the Indonesian government should respect the rule of law and democracy – the basic rights that are universally recognised. 
Human Rights of West Papua
09.38.00

Human Rights of West Papua